Stunting

Apa itu Stunting?
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh (growth faltering) pada anak berusia dibawah lima tahun (balita) akibat kekurangan asupan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari kehamilan hingga anak berusia 23 bulan.

(Kemenkes RI, 2022)

Untuk anak usia dibawah 2 tahun kondisi stunting ditentukan dengan indeks antropometri dengan menggunakan data panjang badan berdasarkan umur (PB/U) sedangkan untuk anak usia 2 tahun keatas, menggunakan data tinggi badan berdasarkan umur (TB/U).
Menurut laporan Riskesdaas (Riset Kesehatan Dasar), kondisi stunting merupakan gabungan antara anak dengan status gizi “pendek” dan “sangat pendek”.

Empat Faktor Penyebab Stunting
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyebutkan sedikitnya empat faktor penyebab stunting, yaitu asupan gizi yang tidak memadai, pola asuh yang kurang optimal, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta kondisi sanitasi dan lingkungan yang tidak sehat. Keempat faktor ini saling berkaitan sehingga pencegahan stunting perlu dilakukan secara terpadu. (Kemiskinan/TNP2K, 2017; TNP2K, 2018).

Faktor pertama penyebab stunting adalah praktik pengasuhan yang kurang baik, terutama minimnya pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi sejak masa kehamilan hingga setelah melahirkan. Data menunjukkan 60% bayi usia 0–6 bulan tidak mendapat ASI eksklusif, dan 2 dari 3 anak usia 0–24 bulan tidak memperoleh MP-ASI sesuai usia. Padahal, MP-ASI seharusnya diberikan mulai usia 6 bulan untuk melengkapi kebutuhan gizi yang tidak lagi terpenuhi hanya dari ASI, sekaligus mendukung daya tahan tubuh serta perkembangan sistem imun anak.

Faktor kedua penyebab stunting adalah masih terbatasnya layanan kesehatan, baik untuk ibu selama hamil dan pasca melahirkan maupun untuk anak dalam pemantauan tumbuh kembang. Data Bank Dunia dan Kemenkes menunjukkan penurunan partisipasi anak di Posyandu dari 79% pada 2007 menjadi 64% pada 2013, sementara akses imunisasi masih belum merata. Selain itu, 2 dari 3 ibu hamil belum mengonsumsi suplemen zat besi secara memadai, dan layanan pembelajaran dini yang berkualitas pun masih terbatas, dengan baru 1 dari 3 anak usia 3–6 tahun yang terdaftar di PAUD.

Faktor ketiga penyebab stunting adalah terbatasnya akses keluarga terhadap makanan bergizi akibat harga yang masih tergolong mahal di Indonesia. Data Riskesdas 2013, SDKI 2012, dan Susenas menunjukkan bahwa harga komoditas pangan di Jakarta 94% lebih tinggi dibandingkan New Delhi, sementara buah dan sayuran bahkan lebih mahal daripada di Singapura. Kondisi ini berkontribusi pada tingginya angka anemia, di mana 1 dari 3 ibu hamil mengalami kekurangan gizi.

Faktor keempat penyebab stunting adalah kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi layak. Data menunjukkan masih ada 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia yang melakukan buang air besar di ruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit infeksi yang mengganggu penyerapan gizi anak dan berdampak pada terhambatnya pertumbuhan.

Sumber data dan informasi: Kemenkes RI; TP2S; Dinas Kesehatan Halmahera Utara; DP3AKB Halmahera Utara.

Bagikan